Jakarta, WartaOne.id - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa sekitar 73,8 persen area di Indonesia telah resmi memasuki musim kemarau hingga penghujung Juli 2026. Meskipun demikian, sejumlah daerah diproyeksikan masih menyimpan potensi guyuran hujan akibat tingginya dinamika atmosfer yang terdeteksi aktif.

Melalui saluran InfoBMKG di Jakarta pada Jumat (7/8/2026), dipaparkan bahwa dampak kemarau mulai memicu ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Insiden karhutla terdeteksi pada rentang 4–5 Agustus 2026 di beberapa wilayah, meliputi Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Kalimantan Utara, dan Kalimantan Timur.

Tak hanya itu, pindaian citra satelit mendeteksi gumpalan asap yang menyebar di Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, serta Kalimantan Selatan. Sebaran asap ini diprediksi bergerak mengarah ke barat laut dan timur laut.

Fenomena Atmosfer dan Anomali Hujan

Di tengah eskalasi kemarau, hujan berintensitas sedang hingga ekstrem justru dilaporkan sempat mengguyur sejumlah wilayah pada kurun 3–6 Agustus 2026. Curah hujan paling lebat tercatat di Sumatra Barat yang menembus angka 298 milimeter per hari, disusul Sumatra Utara (113 mm/hari), Papua (80 mm/hari), Jawa Barat (71 mm/hari), dan Kalimantan Utara (59 mm/hari).

BMKG merinci bahwa kebasahan anomali ini dipicu oleh aktifnya pergerakan gelombang Kelvin, gelombang Rossby ekuatorial, fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO), serta hadirnya sirkulasi siklonik di sebelah barat Bengkulu. Kombinasi dinamika atmosfer ini terbukti masih efektif memicu pembentukan awan hujan di beberapa area.

Dari kacamata iklim global, fenomena El Nino dilaporkan masih menetap dan berada dalam tren penguatan. Situasi ini berjalan selaras dengan kecenderungan Indian Ocean Dipole (IOD) yang bergerak menuju fase positif, sehingga menekan pembentukan awan hujan dan memicu penurunan curah hujan di sebagian besar wilayah Nusantara.

Memasuki pekan ketiga hingga keempat Agustus 2026, BMKG memproyeksikan mayoritas daerah di Indonesia akan didominasi curah hujan kategori rendah, khususnya di wilayah Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, hingga Papua.

SPONSORED AD
SPACE IKLAN 728 x 90 px

Meskipun demikian, publik diimbau untuk tidak lengah terhadap potensi hujan mendadak karena manuver gelombang Rossby ekuatorial, gelombang Kelvin, MJO, serta pembentukan pusat tekanan rendah di Samudra Hindia barat Bengkulu masih sanggup menstimulasi pertumbuhan awan hujan.

Peringatan Angin Kencang dan Gelombang Tinggi

BMKG juga mengidentifikasi potensi peningkatan kecepatan angin permukaan hingga melampaui 25 knot di area Laut Andaman, Laut Natuna, Laut Cina Selatan, Laut Jawa, Laut Flores, Laut Banda, Selat Makassar bagian selatan, Teluk Tomini, Laut Maluku, Laut Halmahera, Laut Arafura, Laut Timor, serta Teluk Carpentaria. Pergerakan angin kencang ini berisiko mengerek ketinggian gelombang di wilayah perairan tersebut.

Untuk rentang kurun 7–10 Agustus 2026, cuaca secara umum diprakirakan cerah berawan hingga hujan ringan. Namun, potensi hujan berintensitas sedang patut diwaspadai di Aceh, Sumatra Barat, Bengkulu, Jawa Timur, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua, dan Papua Selatan. Adapun terpaan angin kencang berpeluang melanda Aceh, Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kepulauan Bangka Belitung, NTB, NTT, Gorontalo, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Maluku Utara, serta Papua Barat Daya.

Sementara pada periode 11–13 Agustus 2026, cuaca secara umum masih dibayang-bayangi kondisi cerah berawan hingga hujan ringan. BMKG memberi peringatan dini atas potensi hujan sedang di kawasan Papua Pegunungan, serta terpaan angin kencang di Aceh, Banten, Jawa Barat, Lampung, Maluku, Sulawesi Utara, dan Papua Selatan.

Mengantisipasi dampak kemarau, BMKG meminta masyarakat untuk menjaga ketahanan fisik, mencukupi asupan air minum, menghemat cadangan air bersih, serta tidak sekali-kali melakukan pembakaran sampah maupun lahan. Publik juga diingatkan untuk tetap tanggap terhadap potensi hujan deras yang beriringan dengan petir dan angin kencang, serta rutin memantau perkembangan cuaca resmi dari kanal BMKG.